Ads

Day 4 Level 11: Peran Ibu dalam Pengasuhan

Image result for peran ibu dalam pengasuhan

Sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menjadikan kaum lelaki lebih utama atas wanita dalam beberapa sisi, ternyata para wanita juga memiliki keistimewaan yang tak dipunyai oleh kaum lelaki. Wanita memiliki beberapa kelebihan dibandingkan kaum pria dari beberapa sisi, di antaranya ialah bersifat lembut dan penyabar yang disukai oleh anak-anak, terutama ketika mereka masih kecil. Sifat ini hendaknya disyukuri oleh para wanita bila telah dikaruniai anak. Oleh karena itu ketika anak ditinggal mati oleh ayahnya, kebanyakan tidak terlalu sedih bila dibandingkan ibunya yang meninggal dunia.

Rasulullah memuji para wanita Anshar karena sifat lembutnya kepada anak-anak.
Beliau Shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda :


صَالِحُ نِسَاءِ قُرَيْشٍ أَحْنَاهُ عَلَى وَلَدٍ فِي صِغَرِهِ وَأَرْعَاهُ عَلَى زَوْجٍ فِي ذَاتِ يَدِهِ

“Sebaik-baik wanita Quraisy adalah yang paling bersifat lembut terhadap anak di masa kecilnya, dan yang paling pandai menjaga amanah suaminya.” (HR. Bukhari: 4946)

Kesabaran wanita mendidik anak bukan hanya akan mendapatkan jaminan masuk syurga dan dijauhkan dari api neraka. Bahkan dalam kehidupan dunia ia akan hidup berbahagia dalam rumah tangganya. Bagaimana tidak? Suami akan merasa berhutang budi kepada istri karena telah berhasil mendidik anak-anak mereka dan menjaga amanah suami dengan sebaik-baiknya.

Mengingat sangat penting kelembutan dan kesabaran di dalam dunia rumah tangga, maka ketika pria ingin menikah, dianjurkan supaya memilih pasangan hidup yang berjiwa lembut dan penyayang, bahkan jika bisa dari keturunan yang banyak anaknya juga. Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda :


تَزَوَّجُوا الْوَدُودَ الْوَلُودَ

“Menikahlah dengan wanita penuh kasih dan subur.”
(HR. Abu Dawud: 6/228 dishahihkan oleh al-Albani: 1/515)

Berikut ini kisah ibu teladan yang bersabar mendidik anak. Istri yang bersabar dan ulet mendidik anak, imbalannya adalah syurga dan dijauhkan dari api neraka. 

Aisyah Radhiallahu’anha, istri Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa sallam berkata, “Ada seorang wanita bersama dua anaknya pernah datang kepadaku. Dia meminta (makanan) kepadaku, namun aku tidak memiliki sesuatu yang dapat dimakan melainkan satu butir kurma, kemudian aku memberikan kepadanya dan ternyata dia membagi untuk kedua anaknya. Setelah itu wanita tersebut berdiri dan beranjak keluar. Tiba-tiba Nabi Shallallahu ’alaihi wa sallam datang dan aku pun memberitahukan peristiwa yang baru aku alami itu. Kemudian beliau bersabda:


مَنِ ابْتُلِىَ مِنْ هَذِهِ الْبَنَاتِ بِشَىْءٍ كُنَّ لَهُ سِتْرًا مِنَ النَّارِ

“Barangsiapa yang diuji sesuatu karena anak-anak perempuannya, lalu ia berlaku baik terhadap mereka maka mereka juga akan melindunginya dari api neraka.” (HR. Bukhari: 5535)

Istri yang mengilmui agama adalah pangkal kebaikan anak.

Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa sallam mengatakan, bahwa dunia ini adalah keindahan tetapi puncak keindahannya adalah wanita yang shalihah. Maka jika istri tergolong shalihah, tentu anak akan dididik agar menjadi shalih dan shalihah juga. Begitulah fitrah manusia, ingin kebaikannya bisa diwarisi oleh anaknya. Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda :


الدُّنْيَا مَتَاعٌ وَخَيْرُ مَتَاعِ الدُّنْيَا الْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ

“Dunia adalah kesenangan, dan sebaik-baik kesenangan dunia adalah wanita yang shalihah.” (HR. Muslim: 2668)

Karena istri sangat berperan di dalam dunia pendidikan anak di rumah tangga, maka kaum pria bila mau menikah, dianjurkan bukan hanya memilih kecantikan paras, tetapi kecantikan hati dan akhlaknya juga. Sedangkan kecantikan hati hanya akan diperoleh bila seorang wanita memiliki ilmu agama yang kuat.

Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda :


تُنْكَحُ الْمَرْأَةُ لأَرْبَعٍ لِمَالِهَا وَلِحَسَبِهَا وَجَمَالِهَا وَلِدِينِهَا ، فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّينِ تَرِبَتْ يَدَاكَ

“Wanita itu dinikahi karena empat hal : karena hartanya, karena keturunannya, karena kecantikannya, dan karena agamanya.
Maka pilihlah karena baik agamanya, niscaya kamu akan beruntung.”
(HR. Bukhari: 4700)

Wanita menjadi baik agama dan akhlaknya bila dia berada di rumah, senantiasa membaca al-Qur’an dan hadits, serta memahami dan mengamalkan apa yang telah di-ilmu-i olehnya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :


وَٱذۡكُرۡنَ مَا یُتۡلَىٰ فِی بُیُوتِكُنَّ مِنۡ ءَایَـٰتِ ٱللَّهِ وَٱلۡحِكۡمَةِۚ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ لَطِیفًا خَبِیرًا

Dan ingatlah apa yang dibacakan di rumahmu dari ayat-ayat Allah dan hikmah (sunnah Nabimu). Sesungguhnya Allah adalah Mahalembut lagi Mahamengetahui.
(QS. al-Ahzāb: 34)

Para istri adalah idola dan pengatur anak-anak.

Keberadaan wanita tidak sama dengan keberadaan pria, apalagi saat dia sudah berkeluarga. Memang tugas mendidik anak adalah milik bersama antara suami dan istri.
Namun kenyataannya, tugas suami seringnya lebih banyak dihabiskan di luar untuk mencari nafkah. Maka kewajiban istri yang berada di rumah menjadi lebih banyak daripada suami ketika sedang tidak berada di rumah.

Oleh karena itu, Allah Azza wa Jalla memilihkan tempat tinggal bagi istri yang lebih aman dan lebih mudah saat mengurusi kebutuhan rumah tangganya, yaitu di rumah. Sebagaimana yang telah Allah gambarkan dalam surat al-Ahzāb ayat 33. Dalam ayat tersebut Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan kepada istri-istri Nabi Shallallahu ’alaihi wa sallam agar berdiam diri di rumah dan tidak sering keluar bertabarruj sebagaimana yang diperbuat oleh wanita-wanita jahiliah, supaya dapat ditiru oleh para wanita Muslimah.

Keberadaan wanita, apalagi dia sudah berumah tangga, tatkala dia diperintahkan untuk tinggal di rumah, memang sudah pas dan sesuai dengan kebutuhan kehidupan berumah tangga dan kemampuan wanita. Bukankah anak kecil lebih banyak keberadaannya di rumah daripada dia di luar, apalagi anak itu jumlahnya banyak?
Maka mereka lebih selamat bila di rumah daripada dibawa keluar. Keberadaan istri juga demikian, jika dia pergi membawa anak di luar, rasanya akan lebih merepotkan daripada mereka di rumah.
Maklum, anak yang belum sempurna akalnya, tingkahnya memang banyak.
Karena itulah sangat tepat sekali bila pemimpin anak ini diamanatkan kepada istri yang lebih banyak di rumah dan in syaa Allah kerjanya akan lebih berhasil daripada suami, karena suami seringnya di luar untuk bekerja.
Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda :


وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ عَلَى بَيْتِ بَعْلِهَا وَوَلَدِهِ وَهْىَ مَسْئُولَةٌ عَنْهُمْ

“Seorang wanita juga pemimpin atas rumah suaminya dan anak-anaknya. Dan dia akan dimintai pertanggung jawaban atas yang dipimpinnya.”
(HR. Bukhari: 2/901)

Lihatlah betapa indahnya pendidikan Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa sallam ini, bahwa istri bukan hanya bertanggung jawab kepada hal yang ada hubungannya dengan hak suami saja, tetapi istri juga bertanggung jawab atas anak-anak suami, yaitu anaknya sendiri. Begitulah nikmatnya menjadi istri bila mau menerima sunnah Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa sallam.

Para istri hendaknya berusaha menjaga fitrah anak-anak.

Anak adalah nikmat dan amanah yang Allah titipkan kepada para orang tua, buah hati yang harus dijaga, bukan hanya menjaga kesehatan fisiknya saja sebagaimana umumnya orang.
Tetapi lebih dari itu, istri hendaknya menjaga kesehatan fitrah anak yang suci, agar ia tidak terkena noda yang mengakibatkan kerugian anak, juga keluarga. Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda :


كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ كَمَثَلِ الْبَهِيمَةِ تُنْتَجُ الْبَهِيمَةَ هَلْ تَرَى فِيهَا جَدْعَاءَ

“Setiap anak yang dilahirkan dalam keadaan fitrah, maka kedua orang tuanya yang menjadikannya Yahudi, atau menjadikannya Nashrani, atau yang menjadikannya Majusi, seperti lahirnya binatang ternak, apakah kamu melihatnya cacat hidung dan telinganya?”
(HR. Bukhari: 5/321)

In syaa Allah, jika istri memiliki bekal ilmu agama yang cukup, dan sering menuntut ilmu syar’i, maka akan mampu mendidik anaknya, serta menjaga kesehatan fitrahnya.
Ia akan mengawasi setiap saat bagaimana tingkah laku anaknya, dan anak itu sendiri akan selalu berada dalam pengawasan ilmu yang dikomandoi oleh ibunya tercinta.

Istri shalihah, sangat memungkinkan untuk mencetak generasi yang shalih dan shalihah juga. Dengan demikian keluarga akan terhindar dari fitnah kerusakan akidah, moral, dan akhlak.

Posting Komentar

0 Komentar