Ads

Day 2 Level 11: Pendidikan Fitrah Seksualitas Sejak Dini







Kesimpulan pribadi:


Fitrah merupakan dasar bagi manusia yg diperolehnya sejak lahir dg memiliki keistimewaan sebagai berikut :
• Beriman kpd Allah
• Kemampuan & kesediaan utk menerima kebaikan & keturunan atau dasar kemampuan untk meneriman pendidikan & pengajaran
• Dorongan ingin tahu utk mencari hakikat kebenaran yg berwujud daya utk belajar
• Dorongan bilogis yg berupa syahwat, nafsu dan tabiat
• Kekuatan" lain & sifat" manusia yg dapat dikembangkan & dpt disempurnakan (Imam Al-Ghazali)

Karena di qur’an lebih banyak disebutkan peran ayah drpd ibu dalam menanamkan aqidah itu artinya peran ibu dan ayah dlm pendidikan seksualitas dini itu sangat penting sekali. Diantaranya :
  1. Seorang Ayah harus menumbuhkan pondasi kepercayaan dan cinta pada anak.
  2. Ayah menjalankan peran keayahannya sebagai lelaki sejati dalam pendidikan fitrah seksualitas.
  3. Sebagai calon suami/calon ayah, terlebih dahulu mengedukasi diri mengenai parenting atau pendidikan berbasis fitrah. Agar setelah menikah dan memiliki anak, ayah tidak kaget atau tidak menerima perannya.
  4. Menyelaraskan visi dan misi keluarga, menggali tujuan dari keluarga, menyamakan persepsi dan pandangan dengan pasangan.
  5. Menumbuhkan rasa percaya diri ayah dengan melibatkan setiap kegiatan ibu ketika mengurus anak sejak anak lahir.
  6. Jika ingin menyekolahkan anak ke PAUD sebaiknya pilih sekolah yang mempunyai guru laki-laki dan perempuan, kecuali orang tua sudah yakin bahwa anaknya telah mendapatkan pemenuhan peran gender yang diperlukan dari ayah dan ibu di rumah.
Bagaimana bila orang tua terlanjur berpisah, atau ayah mengalami kematian karena suatu penyebab:
  • Pada orang tua yang bercerai, ibu tidak memberikan imaji negatif imaji negatif tengang ayah dan tidak membatasi atau menghilangkan waktu kunjungan ayah agar tercapai kesadaran atas tugas dan peran masing-masing sebagai orang tua yang tidak akan pernah berakhir walaupun hubungan pernikahan telah berakhir.
  • Pada ibu yang ditinggalkan suaminya (karena kematian atau tidak mau bertanggung jawab), maka dukungan keluarga besar yang proporsional dapat memenuhi kekosongan peran ayah, misalnya sosok laki-laki di rumah dapat digantikan oleh kakek atau paman. Tujuannya untuk pemenuhan peran gender yang diperlukan serta melengkapi kebutuhan cinta dan kasih sayang pada diri anak, sehingga dampak fatherless pada diri anak dapat dimimalisir.
  • Apabila seorang ibu tidak mendapat dukungan dalam membesarkan anak dari suami atau lingkungan sekitar, maka dibutuhkan pemberdayaan diri berupa penggalian keterampilan untuk dapat memenuhi kebutuhan materi keluarga. Keterampilan yang dimiliki ibu akan mendongkrak kepercayaan dirinya, keyakinan bahwa ia dapat mengatasi permasalahan apapun yang terjadi dalam pengasuhan anak, dan kemampuan dasar dalam mengelola diri secara penuh.

Posting Komentar

0 Komentar