Ads

Day 6 Level 10: Kisah Ibunda Imam Syafi'i

Kisah ibunda imam syafi'i

Dalam menerapkan pendidikan pada anak saya selalu terinspirasi dengan kisah perjuangan ibunda para ulama, salah satunya kisah ibunda Imam Syafi’i dalam mengarahkan pendidikan anaknya.

Hari ini saya membaca lagi kisah tersebut sebagai pengingat untuk melejitkan semangat, berikut kisah singkatnya.

Ayah Imam asy-Syafi’i wafat dalam usia muda. Sehingga ibunyalah yang membesarkan, mendidik, dan memperhatikannya. Setelah ditinggal wafat suaminya, ibunda Imam syafi’i membawanya dari Gaza ke Makkah. Di Mekah, ia mempelajari Alquran dan berhasil menghafalkannya saat berusia 7 tahun. Setelah berhasil menghafalkan al- Quran, ibunda mengirim anaknya ke sebuah pedalaman Makkah yang masih murni bahasa Arabnya. Sehingga, bahasanya lebih fasih dan tertata. Tak cukup sampai disana, Imam Syafi’i juga dikenal sebagai pemanah ulung dan jago berkuda. Ini semua tak lepas dari didikan sang bunda. Sampai pada akhirnya Imam Syafi’i menjadi ulama besar ternama.

Imam asy-Sayfi’i bercerita tentang masa kecilnya, “Aku adalah seorang anak yatim. Ibukulah yang mengasuhku. Namun ia tidak memiliki biaya untuk pendidikanku. Aku menghafal Alquran saat berusia 7 tahun. Dan menghafal (kitab) al-Muwaththa saat berusia 10 tahun. Setelah menyempurnakan hafalan Al-Quranku, aku masuk ke masjid, duduk di majelisnya para ulama. Kuhafalkan hadits atau suatu permasalahan. Keadaan kami di masyarakat berbeda, aku tidak memiliki uang untuk membeli kertas. Aku pun menjadikan tulang sebagai tempat menulis”.

Sebuah kisah yang mengandung banyak keteladanan. Pertama, walaupun memiliki keterbatasan materi, ibu Imam asy-Syafi’i tetap memberi perhatian luar biasa terhadap pendidikan anaknya. Kedua, mengajarkan Al Qur'an telebih dahulu baru ilmu lainnya seperti kitab Fiqh al-Muwaththa karya Imam Ahmad. Semoga Allah menolong kita mendidik anak-anak kita menjadi hamba Allah yang shalih. Aamiin

Posting Komentar

0 Komentar