Ads

Cerdas Finansial: Jauhi Riba


Wahai suamiku, jika pengahasilanmu hanya cukup untuk kita makan setiap dan membayar biaya kontrak rumah setiap bulan, maka aku lebih ridha dari pada kita memiliki rumah dan berbagai macam perabotan sehingga harus membayar cicilan setiap bulan ke bank. Sungguh, dengan pertolongan-Nya aku lebih memilih bersabar hidup sederhana bersamamu dari pada bermewah dengan hutang.

Tak mengapa bagiku kita hanya memiliki beberapa potong baju yang lusuh, tak membeli baju saat lebaran asalkan bisa menabung untuk suatu hari nanti bersama-sama bersujud memohon ampun pada-Nya di Baitullah. Karena baju lusuh yang suci tentulah lebih utama dihadapan Allah dari pada baju baru yang diperoleh dengan masuk ke dalam transaksi riba.

Karena diriwayatkan dari ‘Abdullah bin Mas’ud, Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

( لَعَنَ اللَّهُ آكِلَ الرِّبَا ، وَمُوكِلَهُ ، وَشَاهِدَهُ ، وَكَاتِبَهُ.)

“Allah melaknat pemakan riba, yang memberi makan, saksi dan juru tulisnya” (HR Ahmad no. 3725. Syaikh Syu’aib mengatakan, “Shahih li ghairih.”)

Fasilitas untuk berkecimpung di dalam transaksi riba sangatlah banyak sekali di zaman ini. Oleh karena itu, janganlah kita biarkan diri kita sekeluarga berkecimpung di dalamnya. Contoh kecil banyak sekali tawaran memiliki kartu kredit dari berbagai macam bank setelah kami menikah. Singkatnya yang saya dan suami tahu dari buku Halal Haram Fikih Kontemporer Ustadz Erwandi Tarmizi, kartu kredit ini masuk dalam kategori riba yang harus dijauhi.

Agar Tidak Terjerumus dalam Riba. Maka sebisa mungkin saya dan suami harus menjauhi urusan dengannya baik hanya sebagai peminjam pada pelaku riba atau pun bekerja sebagai saksi atau juru tulis transaksi riba. Gencarnya media dalam menampilkan kehidupan yang serba mewah telah menimbulkan gaya hidup konsumsif dalam masyarakat kita.

Sedihnya hal ini tidak hanya terjadi di kota-kota besar, gaya hidup konsumtif pun mulai merambah ke pelosok-pelosok desa. Seiring dengan menjamurnya lembaga-lembaga keuangan yang memberikan kredit dengan cara yang sangat mudah, masyarakat yang konsumtif jadi merasa mudah dalam membeli sesuatu untuk memenuhi hasratnya. Tinggal mengisi formulir pengajuan kredit, menandatanganinya, barang pun akan terbeli.

Masalah bagaimana melunasinya urusan belakang. Yang penting menikmati dulu barangnya, menikmati rasa gengsi yang timbul karena membeli barang mahal. Apa manfaat dari barang yang dibeli seringkali justru menjadi pertimbangan kedua. Masalah mulai timbul ketika tagihan kredit datang di kemudian hari, yang ternyata jumlahnya membengkak akibat bunga berbunga yang diterapkan.

Intinya, masyarakat di zaman penuh ‘wah’ saat ini, untuk mendapatkan barang mewah mau saja terjun dalam praktek riba. Benarlah sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

لَيَأْتِيَنَّ عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ لاَ يُبَالِى الْمَرْءُ بِمَا أَخَذَ الْمَالَ ، أَمِنْ حَلاَلٍ أَمْ مِنْ حَرَامٍ

“Akan datang suatu zaman di mana manusia tidak lagi peduli dari mana mereka mendapatkan harta, apakah dari usaha yang halal atau yang haram.” (HR. Bukhari no. 2083, dari Abu Hurairah).

Hal-hal tersebut tentu Allah tidak meridhoi bahkan Allah murkai. Maka pengajaran terbaik untuk Utsman adalah bagaimana ia meneladani kami sebagai orangtuanya. Semoga Allah mampukan dan kuatkan kami sekeluarga, berikanlah kepada kami sifat qona’ah, dijauhkan dari yang haram, dari hutang serta riba dan debu-debunya. Aamiin

Posting Komentar

0 Komentar