Ads

Day 10 Level 2: Mengendalikan Emosi Bag. 5

Hari ini hampir meledak karena lelah, entah setan apa yang mengodaku. Hampir saja aku marah pada bayi yang masih tak tahu sebab lelah dan marahku. Seketika kuletakkan Utsman di tempat tidurnya dan bergegas ke toilet untuk berwudhu sambil mendengarnya tangisnya memecah pikiranku karena mencariku yang tak berkata apapun sebelum meninggalkannya. Dalam hatiku bergumam "Ya Allah, ampunilah aku. Mudahkanlah aku menjadi ibu shalihah bagi anak-anakku, dan lindungilah aku dari setan yang terajam." Syukur alhamdulillah ya Allah, aku tak masih dapat diam dan ingat untuk langsung berwudhu. Segera aku kembali lalu mengendongnya sambil berkata lirih, "maafin umi ya nak, umi nggak pamit sebelum pergi ke toilet tadi." Padahal aku tahu, jika aku pamit, ia akan mengerti dan lebih tenang.
.
Dalam hatiku bergumam, ya Allah tak selamanya putraku seperti ini, saat ini anakku hanya butuh pelukan, hanya butuh rasa nyaman dan aman, pelukan hangat yang bisa menghapuskan segala lara dan lelahnya agar dapat tertidur. Anakku hanya ingin bersamaku, hanya ingin dekat denganku, karena mungkin hanya bau tubuhku yang memberikannya kenyamanan. Dan otak kecilnya belum cukup bersambungan untuk mengerti, bahwa.. aku sedang letih, lelah, capek dengan segala aktifitas yang kumulai sejak dini hari dan tidak stabilnya emosi diri ketika sedang haid. Ia belum paham Sa..  tapi sikapku yang tidak sabar dan menyusahkan hatinya mungkin akan terekam di alam bawah sadarnya. "Ya Allah.. ampuni aku, jadikanlah Utsman anak yang shalih."
.
Saat dada ini penuh sesak dengan penyesalan.. Aku mencium tubuh kecilnya yang kini tertidur diperlukanku, sambil berkata "maafkan umi ya dedek."
.
Sudah berapa kali seperti ini?
.
Akan berapa kali lagi? (semoga esok lebih mampu bersabar)
.
Kenapa emosi susah sekali dikontrol, terutama ketika sedang letih atau mengantuk yang luar biasa? Atau ketika melihat rumah yang tak kunjung rapi? Daftar kerjaan yang seakan tidak berkurang sejak pagi?
.
Lalu menyesal dan mengulangi lagi. Apakah ini akan terjadi setiap aku haid?
.
Mengapa begitu sulit untuk menyadari saat begitu lelah jika anakku tidak memiliki perasaan apapun terhadapku, kecuali rasa cinta. Anakku hanya ingin dekat denganku, itu saja! Sungguh tidak selamanya ia seperti ini. Perlahan.. ia akan semakin tumbuh dewasa dan kuat bangun dan berjalan sendiri.
.
Perlahan.. Anakku tidak akan sekecil ini selamanya. Mungkin saat itulah aku akan merindukannya sebagaimana ia merindukanku saat ini. "Ampuni aku ya Allah, semoga aku dapat bersabar mencintainya sepenuh dan setulus hati. Karena kekuatan cinta dariMu yang akan menjagaku untuk tidak menyakitinya walau sangat lelah sekalipun."
.
Apakah untuk bersabar selalu butuh diingatkan oleh tangisan anakku? Padahal seharusnya aku bisa memilih untuk bersabar lebih awal sebelum membuatnya menangis. Dan aku pun kembali meneteskan air mata saat menulis cerita ini.
.
#hari10
#tantangan10hari
#gamelevel2
#melatihkemandirian
#kuliahbundasayang
#institutibuprofesional

Posting Komentar

0 Komentar