Ads

Day 7 Level 1: Membentuk Aqidah Anak Bag. 1

.
Sesungguhnya sebelum kita dilahirkan ke muka bumi, setiap kita pernah bertemu Allah dan bersaksi bahwa Allah benar adanya sebagai Rabb kita. "Alastu biRobbikum? Qoluu Balaa Syahidnaa", begitu bunyi ayatnya di dalam al Qur'an. Walaupun kita lupa peristiwa persaksian itu, namun semua itu telah terekam kuat bahkan terinstal di dalam fitrah keimanan setiap bayi yang lahir.
.
Membentuk aqidah anak erat kaitannya dengan membangkitkan fitrah keimanan, yang meliputi fitrah kesucian, fitrah kebenaran, fitrah kehormatan diri, fitrah malu terhadap dosa dan seterusnya. Inilah fitrah terpenting dan terutama dibandingkan fitrah lainnya. Dan fitrah keimanan inilah yang meliputi semua fitrah lainnya seperti fitrah bakat, fitrah belajar, fitrah kepemimpinan, fitrah perkembangan hingga disempurnakan menjadi mulia. Fitrah keimanan yang menyempurnakan fitrah lainnya sehingga menjadi mulia inilah yang kita kenal dengan akhlaqul karimah.
.
Pertanyaannya sekarang lantas bagaimanakah menjaga dan memelihara serta membangkitkan dan menumbuhkan fitrah keimanan tersebut?
.
Ustadz Ardiano Rusfi mengatakan, bagaimana ayah bundanya bersikap maka begitulah anak balita kita membangun imaji baik atau buruk tentang Rabbnya dan membangun pensikapannya terhadap kehidupannya kelak.
.
Sebagai pelajaran, Ummu Qais binti Mihsbah berkata,: Suatu hari aku datang menemui Rasulullah SAW dengan membawa bayi yang belum pernah makan kecuali air susu ibunya. Beliau mengendong bayi itu, dan bayi itu kencing ditubuh beliau. Maka aku pun merenggut bayi itu dari beliau. Ternyata beliau SAW bersabda, "Kencing ini dapat hilang hanya dengan menguyurkan air padanya. Tetapi betapa sulitnya menghilangkan renggutanmu yang kasar itu dari benaknya!" (HR. Bukhari dan Muslim)
.
Ustadz Ardiano Rusfi menyampaikan ada seorang psikolog yang mengatakan bahwa satu hari yang membahagiakan seorang anak ketika mereka kecil, akan menyelamatkan satu hari ketika mereka dewasa. Beberapa hari yang membahagiakan seorang anak dimasa kecil, akan membahagiakan beberapa hari ketika mereka dewasa. Dan seluruh hari yang membahasiakan seorang anak sepanjang masa anak-anaknya akan menyelamatkan seluruh hidupnya ketika dewasa.
.
Inilah pentingnya membangun imaji positif anak-anak terhadap orangtuanya, terhadap alamnya, terhadap masyarakatnya, dan terhadap agamanya sejak usia dini.
.
Dalam prakteknya pada sub bab komunikasi produktif dengan Utsman yang masih berusia 3 bulan, untuk membentuk aqidahnya sejak dini, saya dan suami sepakat. Apabila sudah masuk waktu shalat, namun Utsman masih ingin main atau digendong atau menyusu, kami tuntaskan dulu hasrat keinginannya seperti bermain/digendong/menyusu. Jika Utsman sudah selesai dengan hajatnya, saya kemudian shalat sendiri atau sambil mengendongnya. Sembari memberikan pengertian jika saya akan melakukan shalat. Misalnya:
"Dedek, Umi ambil wudhu dulu ya, dedek disini sebentar, nanti kita shalat bareng."
"Dedek, kita mulai ya shalat dzuhurnya, empat rakaar, bacaan sir."
Bisa dengan meletakkan Utsman di depan agak ke samping tempat saya shalat, apabila dia menangis maka saya bisa dengan mudah meraihnya kemudian mengendongnya sambil melanjutkan shalat.
.
Hal ini kami usahakan agar mampu membangun imaji positif Utsman terhadap kami selaku orang tua dan agamanya, sebagaimana Rasulullah SAW membiarkan cucunya bermain kuda-kudaan ketika beliau sedang sujut dalam shalatnya, hingga kedua cucunya puas, hal ini beliau SAW lakukan semata-mata untuk membangun imaji positif tentang ibadah.
.
#hari7
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang
#institutibuprofesional

Posting Komentar

0 Komentar