Teknis Pendidikan Pre Aqil Baligh 8-10 Tahun

by - 4/16/2018 06:33:00 AM



Disclaimer : materi yang saya tulis ini bukan milik saya. All credits dari Tim Pengurus HEbAT Pusat. Saya tuliskan kembali dengan tujuan sebagai catatan pribadi dan berbagi manfaat.


Menurut pak Prof Daniel Rosyid, inti berumah tangga kan hanya 2, mendidik generasi dan membangun kepemimpinan berbasis potensi atau enterpreneurship bersama (berdakwah, berkomunitas, bersosial bisnis etc). Tanpa dua fungsi sejati itu hidup akan kehilangan gairah. Namun, tidak perlu juga menjadi panik dan tergesa-gesa atau membuat pacuan kuda. Ustadz saya, ust Adriano menganjurkan Optimistic Parenting. Esensinya mendidik anak perlu rileks namun konsisten, Ithminan namun istiqomah. Sebagaimana sunnatullah, semua ada waktu dan tahapan.

Saya melihat ada periode kritis di usia 8-10 tahun. Yang pertama, bahwa usia 7 tahun sholat mulai diperintah, dan usia 10 tahun boleh dipukul. Apa maknanya? Ada waktu 2-3 tahun, agar anak berlatih dan membangun kesaadaran sehingga tidak perlu dipukul karena meninggalkan shalat. Bagaimana membimbing anak-anak untuk dapat mencapai fitrah-fitrah baiknya dalam fase ini?

Fitrah Keimanan

Keteladanan dan Membangun Kesadaran
Walau kewajiban Syar’i jatuh ketika aqil baligh, latihan dan pembiasaan dengan cara keteladanan dan membangun kesadaran mesti dimulai sejak 7 tahun, dan usia 10 tahun adalah titik kritis. Bila tahap ini gagal, dengan berbagai alasan misalnya dengan pemaksaan, trauma atau pendidikan tidak berhasil membuat terbangun kesadarannya, maka fase berikutnya akan sulit recoverynya. Masa 7/8–10 tahun adalah masa transisi awal dari masa ego sentris sebagai anak di usia 0-6 tahun, kepada kesadaran awal sebagai makhluk Tuhan dan makhluk sosial.

Nah, kembali ke tahap 8-10 tahun. Jika imaji tentang sholat dan ibadah-ibadah lainnya sudah “negatif” di usia 0-6 tahun, di usia 7 tahun batas untuk memulai kesadaran kembali. Ada waktu di usia 8-10 tahun untuk kembali membangun kesadaran positifnya tentang kebenaran. Jadi jangan sampai dipukul. Seingat saya tidak ada satu hadits pun yang menceritakan Rasulullah SAW pernah memukul anak. Nah, sholat adalah contoh. Ada begitu banyak nilai-nilai kebenaran yang bersemayam dalam fitrah keimanan anak-anak kita yang sebaiknya disadarkan.

Fitrah Belajar

Intelektual Curiosity
Intelektual Curiousity adalah salah satu cara untuk membangkitkan fitrah belajar. Yang paling efektif adalah experiental learning atau project based learning atau biasa disebut menggali hikmah bersama peristiwa sehari-hari, atau dari sejarah atau yang ada di alam semesta. Tidak ada yang kebetulan dari peristiwa sehari-hari. Beternak kelinci misalnya, bukan hanya fitrah belajarnya yang digali, tetapi fitrah-fitrah lainnya. Misalnya ketika ada kelinci yang wafat, kita bisa menemukan hikmah-hiimah dibalik kematian kelinci dan musibah lalu bagaimana menyikapinya. Bagaimana imaji postif dibangun dari peristiwa itu bukan sebalikanya. Jangan remehkan peristiwa2-peristiwa dan imaji-imaji di masa anak-anak. Banyak orang dewasa yang bersikap negatif terhadap musibah, menjadi terpuruk, depresi dstnya. Itu karena ada imaji negatif, yang membuat luka persepsi lalu melahirkan pensikapan yang buruk ketika dewasa.

Salah satu yang kita dapat gali dari Siroh Nabawiyah ketika Nabi SAW berusia 8-10 tahun adalah melakukan perjalanan jauh berdagang ke Syam bersama Pamannya. Dunia luar membuka cakrawala. Rasululloh SAW menyaksikan beragam suku bangsa bertemu di Syam, melihat bagaimana nasib pedangan yang jujur dan pedangang yang curang.

Silahkan dieksplorasi cara-cara untuk INSIDE OUT semua fitrah-fitrah baik yang ada dalam diri anak kita.

Fitrah Bakat

Fitrah bakat yang dimaksud adalah potensi keunikan terkait personality yang merupakan bawaan lahir.
Orang menyebutnya bakat, talent, strength, grit dll. Setiap bayi adalah unik, dan keunikannya adalah keistimewaannya yang bila dikembangkan akan menjadi peran peradabannya, misi spesifiknya sbg khalifah. Tidak ada bayi yang lahir tanpa bakat dan keunikan. Inilah sesungguhnya panggilan hidup yang sudah Allah rancang. Nampak pada sifat2 dominannya sejak kecil misalnya suka memimpin, suka mengatur, suka guyub, suka meneliti, suka berfikir, suka mengait2kan, suka curigaan atau waspada dll. Maka amatilah, catatlah, fokus dan konsisten menumbuhkannya.

Fitrah Perkembangan terkait dengan tahapan usia.

Ada cara dan metode yang berbeda untuk tiap tahap usia dan tiap jenis fitrah. Dasar pemahaman adanya fitrah perkembangan :

[1] Bahwa segala sesuatu di muka bumi dan di alam semesta memiliki sunnatullah perkembangan terkait waktu dan tahapan. Fitrah adalah ibarat benih, maka punya tahapan merawat dan menumbuhkannya.
[2] Bahwa fitrah perkembangan punya tahun-tahun perkembangan manusia, yang sepenuhnya mengambil dari tahun-tahun yang disebut dalam Al Quran maupun Al Hadits, yaitu 2,7,10 tahun dan 14-15 tahun. Dimana 14-15 tahun adalah batas antara anak dan bukan anak, antara bukan mukalaf dan mukalaf, antara tidak wajib memikul beban syariah dan wajib memikul beban syariah, antara pedagogi dan andragogi
[3] Bahwa semua tahapan adalah Golden Age dalam pandangan Islam, asal memahami pada tahapan apa, fitrah apa, akan mengalami puncaknya dengan cara bagaimana.


Oleh : Ust. Harry Santosa

Disusun oleh: Tim Pengurus Pusat HEbAT

You May Also Like

0 komentar