Ads

Perkataan Ulama’ Salaf: Keutamaan Ilmu dan Keutamaan Orang Berilmu [4/4]




1.     Diriwayatkan dari Abu Umar Bin Abdul Barr dari Ali Bin Abi Thalib radliyallaahu ‘anhu, beliau berkata:

“Ilmu itu lebih baik daripada harta, karena harta itu kamu menjaganya sedangkan ilmu menjagamu. Harta akan hilang untuk menafkahimu, sedangkan ilmu akan mensucikan nafkah itu. Ilmu itu sebagai hakim sedangkan harta sebagai sesuatu yang dihukumi. Para penyimpan harta mati sedangkan mereka hidup, sedangkan para ulama’ akan selalu ada selama waktu masih ada, secara fisik mereka tidak ada namun pengaruh (bekas-bekas) mereka masih ada di dalam hati”
[Jaami’u Bayaanil Ilmi I/57]

2.     Muadz Bin Jabal radliyallaahu ‘anhu berkata:

Hendaknya kalian berilmu karena mencarinya adalah ibadah, memahaminya adalah Khasy-yah (memiliki rasa takut kepada Allah), membahas ilmu adalah jihad, mengajarkan kepada orang yang tidak mengetahuinya adalah shadaqah, mengulanginya adalah sebagai tasbih, dengan ilmu itulah Allah diketahui dan diibadahi, dan dengan ilmu itulah Allah di agungkan dan ditauhidkan, Allah mengangkat ilmu dari suatu kaum yang mereka dijadikan pemimpin dan imam bagi manusia yang mereka mengambil petunjuk kepadanya dan dikembalikan seluruh pendapat kepadanya”
[Majmu’ Al Fataawa Ibnu Taimiyyah X/93]

Ibnu Abdil Barr juga meriwayatkan atsar ini dari Muadz radliyallaahu ‘anhu  secara marfu’ dari Abul Aswad Ad Duwali lebih panjang daripada ini akan tetapi sanadnya dhaif (lemah).

3.     Ibnu Abdul Barr meriwayatkan dari Abul Aswad Ad Duwali rahimahullah, beliau berkata:

Para raja itu penguasa bagi manusia dan para ulama’ itu penguasa bagi para raja”
[Jaami’u Bayaanil Ilmi I/60]

4.     Ibnu Abdul Barr meriwayatkan dari Al Ahnaf Bin Qais rahimahullah berkata:

Hampir-hampir para ulama’ itu menjadi tuhan, dan setiap kemulian tanpa dikuatkan dengan ilmu maka kembalinya akan menuju kepada kehinaan”
[Jaami’u Bayaanil Ilmi I/60]

5.     Ibnu Abdul Barr berkata:

Berkata beberapa ulama’ : Termasuk kemuliaan ilmu dan keutamaannya bahwa setiap orang yang dinisbatkan padanya akan merasa senang dengan hal itu walaupun dia bukan ahlinya, dan setiap orang yang dijauhkan darinya dan dinisbatkan kepada kebodohan maka dia akan merasa berat pada dirinya untuk menerima walaupun dia memang benar-benar bodoh”
[Jaami’u Bayaanil Ilmi I/59]

6.     Diriwayatkan oleh Al Khathiib Al Baghdaadi rahimahullah dari Sufyaan Bin Uyainah rahimahullah, beliau berkata:

“Apakah kamu tahu permisalan antara kebodohan dan ilmu? Yaitu seperti Darul Kufri (negara kafir) dan Darul Islam (negara islam), jika orang-orang Islam meninggalkan jihad maka datanglah orang-orang kafir mengambil Islam, begitu juga jika manusia meninggalkan ilmu maka manusia akan menjadi bodoh”
[Al Faqiih Wal Mutafaqqih I/35]

7.     Al Khathiib Al Baghdaadi juga meriwayatkan, beliau berkata:

Manusia yang paling tinggi kedudukannya di sisi Allah adalah orang-orang yang berada di antara Allah dan di antara para hambanya yaitu para Nabi dan ulama’”
[Al Faqiih Wal Mutafaqqih I/35]

8.     Diriwayatkan oleh Al Khathiib dari Abu Haniifah rahimahullah berkata:

“Jika tidak menjadi wali-wali Allah di dunia dan akhirat yaitu para fuqaha’ dan ulama’ maka dia tidak mendapatkan perlindungan dari Allah”
Dan juga diriwayatkan oleh Al Khathiib dari Asy Syaafi’I seperti ini juga.
[Al Faqiih Wal Mutafaqqih I/35-36]

9.     Diriwayatkan dari Al Khathiib dari Hilal Bin Khabbaab, beliau berkata:

“Aku berkata kepada Sa’iid Bin Jubair: ‘Wahai Abu Abdullah apa tanda-tanda kehancuran manusia?’
Dia menjawab: ‘Jika para fuqaha’ mereka hancur maka hancurlah mereka’ “
[Al Faqiih Wal Mutafaqqih I/37]

10.  Diriwayatkan dari Ibnu Abdil Barr dari Ja’far Bin Muhammad, beliau berkata:

“Tidak ada kematian yang paling disenangi oleh Iblis melainkan kematian seorang yang faqih”
[Jaami’u Bayaanil Ilmi I/60]

11.  Asy Syaafi’I rahimahullah berkata:

Mencari ilmu itu lebih utama daripada shalat nafilah (sunnah)”

Dan dia berkata:

“Barang siapa yang menginginkan dunia maka hendaknya dengan ilmu dan barang siapa yang menginginkan akhirat hendaknya dengan ilmu”

Berkata juga:

“Tidak ada yang dapat mendekatkan diri pada Allah dengan sesuatu setelah kewajiban yang lebih baik daripada mencari ilmu”
[Disebutkan oleh Imam An Nawawi di dalam kitab Al Majmu’ I/12]

12.  Abu Haamid Al Ghazaali rahimahullah berkata:

Setiap sedikit saja dari orang yang merasa senang untuk dinisbatkan kepadanya kebodohan dengan perkara-perkara terutama tentang syari’at, maka kamu akan melihat orang yang dikuasai kemarahan bagaimana jika dia marah di atas kesalahan dan kebodohan?
Dan bagaimana dia bersungguh-sungguh di dalam menentang kebenaran setelah dia mengetahui kekhawatirannya apabila tersingkat aib kebodohannya?
Jelas dia akan lebih bersungguh-sungguh untuk menutupi aib kebodohannya daripada menutupi aurat (aib) yang sebenarnya, karena kebodohan itu akan merusak membuat jelek bentuk dirinya (jiwanya) dan menghitamkan wajahnya, dan orangnya tercela, sedangkan pakaian itu hanya membuat jelek bentuk badannya, dan jiwa itu lebih mulia daripada badan, dan kejelekan jiwa lebih jelek daripada kejelekan badan, kemudian kejelekan badan juga tidak dicela bagi orang yang memilikinya, karena itu ciptaan yang tidak termasuk dari usaha yang dia inginkan, dan juga bukan termasuk usahanya untuk menghilangkan atau memperbaikinya.
Akan tetapi kebodohan adalah kejelekan yang memungkinkan untuk dapat menghilangkannya dan merubahnya dengan ilmu yang baik, oleh karena itu manusia lebih terasa sakit dengan munculnya kebodohan dan akan semakin besar rasa senang pada dirinya dengan ilmunya kemudian merasa nikmat ketika nampak kebaikan ilmunya untuk orang lain”
[Ihyaa’ Uluumud Diin II/357]

            Inilah akhir apa yang telah kami (penulis, red) sebutkan dari perkataan para salaf tentang keutamaan ilmu dan keutamaan orang yang berilmu.

Posting Komentar

0 Komentar