Pengalaman Pertama Belajar (Menjadi Keluarga) HEbAT

by - 4/05/2018 04:05:00 AM



Ahad, 1 April 2018 kemarin tiba-tiba dihubungi oleh the Puspa selaku admin Grub Pre usia 0-6 tahun AB HEbAT Bandung untuk memberikan testimoni seputar pengalaman bergabung bersama HEbAT Community selama ini, untuk kemudian dipresentasikan di grub keesokan harinya.

Ada beberapa pertanyaan yang sudah dibuat sebagai parameter pembahasan ketika presentasi atau pun diskusi nantinya, berikut beberapa pertanyaan tersebut:
a. Motivasi terkuat bergabung dengan HEbAT Community?
b. Apa kesan pertama setelah mengikuti Martikulasi HEbAT?
c. Bagaimana penerapan FBE di rumah? -dalam bentuk berbagi pengalaman penerapan FBE di rumah-
d. Apa saja yang sudah diamalkan dari ilmu FBE?
e. Apakah ada kendala yang dihadapi dalam ber-HE dan bagaimana solusinya?
f. Keunikan apakah yang ditemukan dalam keluarga?
g. Apa Insight learning sepekan atau sebulan ini?

Baik, saya akan menjawab satu persatu pertanyaan diatas berdasarkan pengalaman pribadi saya. Namun untuk pertanyaan point ke 5 dan 6, saya rasa tidak perlu saya share ya jawabannya.

Motivasi saya bergabung dengan HEbAT community

Pertama, sejak sebelum menikah saya menyadari jika ibdah terpanjang yang akan kita jalani dalam hidup ini adalah pernikahan. Apabila ibadah ini baik, kebaikannya akan dihisab. Bagitu pun sebaliknya, jika ibadah ini rusak –maksudnya dilakukan tanpa dasar ilmu, yuklah dari pada galau mikirin kapan nikah, apalagi memenuhi beranda sosmed dengan status pengen nikah, mending belajar yang banyak buat mempersiapkan ilmu apa saja yang kita butuhkan– karena kitalah yang akan bertanggung jawab di dunia dan akan dimintai pertanggung jawaban di akhirat kelak. Atas dasar inilah saya kemudian mencoba mencari berbagai ilmu yang dibutuhkan dalam mempersiapkan menjalani ibadah ini termasuk mendaftar ke HEbAT community yang kebanyakan isinya emak-emak dan bapak-bapak padahal saat itu saya belum menikah, hehehe –pedhe banget ya, qiqiqi– nggak apa-apa, namanya juga mau belajar, harus pedhe gedhe (punya percaya diri yang besar). Apalagi untuk urusan akhirat, jangankan belajar sama emak-emak atau embah-embah (nenek-nenek), bahkan sama anak-anak pun bakal saya jabanin (jalanin) kalau memang saya memang belum punya ilmunya.
Kedua, karena ingin bisa memberi banyak manfaat. Manfaat untuk diri sendiri, keluarga dan jika rezeki bisa bermanfaat untuk ummat. Pengen bangetlah daku masuk golongan orang-orang yang berjuang meninggikan kalimat Allah di muka bumi kayak para sahabat dan ulama, pengen juga masuk golongan orang-orang yang turut serta untuk membangun kembali peradapan Islam di akhir zaman.

“Perempuan yang terdidik kan melahirkan generasi terdidik yang lebih baik”

Pada dasarnya ilmu yang kita miliki memiliki dua hak, hak untuk diamalkan dan hak untuk diajarkan. Jadi masak punya ilmu diumpetin apalagi kalau untuk urusan akhirat, saya merasa sayang banget, karena tidak akan beranak pinak, hehehe. Harta aja kalau disimpan (mencapai hisab) tidak dikeluarin zakatnya jadi dosa, barang-barang yang tidak terpakai jika ditimbun jadi riba, air kalau tidak dibiarkan mengalir jadi keruh. Jadi yuklah berlomba-lomba banyak berbagi manfaat agar kita bisa sama-sama membangun peradaban yang lebih baik. oke

Kesan setelah ikut Martikulasi HebAT

Secara pribadi saya sangat bersyukur diizinkan Allah mengenal HebAT community dan dapat belajar banyak ilmu parenting. Penasaran apa saya yang akan kita pelajari? Makanya yuk gabung HEbAT, biar bisa membangun keluarga yang HEbAT di dunia dan akhirat semoga Allah ridhai

Pengalaman menerapkan FBE di rumah

FBE (Fitrah Based Education) itu judul bukunya Ustadz Harry Santosa yang sedang saya baca bareng suami, hehehe. Harganya tiga ratus ribuah tapi alhamdulillah kami tidak beli, karena mendapat hadiah saat pernikahan kami dari teman-teman shalihah yang dipersaudarakan sama Allah lewat pertemuan kami di Asrama Rumah Qur’an Inspirasi Yogyakarta saat bareng-bareng menghafal Al Qur’an, bukunya tebal setebal ilmu yang ada di dalamnya, kalau mau beli bisa hubungi saya, nanti saya beri link untuk mendapatkannya, hehehe #SedangPromosi– Bukan ini yang mau saya bagikan terkait pengalaman menerapakan FBE– baik kembali ke pertanyaan. Karena usia pernikahan juga terhitung baru saat menjawab pertanyaan ini, dan anak pertama juga belum lahir. Sejauh ini kami baru membuat Family Strategic Planning, apa itu? Kayak mau bikin perusahaan aja. Penasaran? Baca bukunya, hehehe. Atau baca penjelasan singkat apa itu Family Strategic Planning diartikel sebelah ya. Tapi pada intinya, Family Strategic Planning itu perlu. Kenapa? Ibaratnya suami dan saya adalah nahkoda sebuah bahtera bernama pernikahan yang berlayar diluasnya laut kehidupan, suami dan saya butuh ilmu, peta, kompas, dan rencana tujuan. Agar tahu bagaimana cara menghadapi badai dan punya arah kemana bahtera ini akan dibawa. Seperti yang saya sampaikan sebelumnya, karena ibadah pernikahan adalah ibadah terpanjang dalam hidup kita.

“Keluargaku adalah amanahku, suami dan anak-anak yang Allah rezekikan kepadaku adalah amanah yang akan aku pertanggung jawabkan di dunia dan akhirat.”

Keluarga juga bisa menjadi surga atau neraka di dunia, tergantung bagaimana membentuknya, maka seharusnya setiap orang yang berkeluarga atau mau berkeluarga bersungguh-sungguh mempersiapkan bagaimana membangunnya dengan ilmu yang benar. Nah Family Strategic Planning yang tidak kalah pentingnya dengan Financial Planning –yang sering kita dengar– dibuat di keluarga kami dengan tujuan untuk membentuk “A Home Team” yang nantinya akan digunakan sebagai pedoman membangun kehidupan rumah tangga versi kami –suami dan saya–.

Apa saja yang sudah di amalkan dari Ilmu FBE

Membuat Family Strategic Planning, untuk Frame Work baru dibuat belum diamalkan, sehingga saya mohon maaf jika belum bisa mensharenya.
(Langsung lanjut ke point 7 ya)

Insight learning sepekan atau sebulan ini

Membaca buku Fitrah Based Education bersama suami.

You May Also Like

0 komentar