Ads

Kriteria Memilih Calon Istri: Kualitas Agama atau Kecantikan Dulu?



Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullaah memberikan tips yang brilian tentang memilih calon istri dan sekaligus menunjukkan kedalaman ilmu fiqh beliau:

إذَا خَطَبَ رَجُلٌ امْرَأَةً سَأَلَ عَنْ جَمَالِهَا أَوَّلًا فَإِنْ حُمِدَ : سَأَلَ عَنْ دِينِهَا .فَإِنْ حُمِدَ : تَزَوَّجَ ، وَإِنْ لَمْ يُحْمَدْ : يَكُونُ رَدُّهُ لِأَجْلِ الدِّينِ. لَا يَسْأَلُ أَوَّلًا عَنْ الدِّينِ ، فَإِنْ حُمِدَ سَأَلَ عَنْ الْجَمَالِ فَإِنْ لَمْ يُحْمَدْ رَدَّهَا .فَيَكُونُ رَدُّهُ لِلْجَمَالِ لَا لِلدِّينِ 

"Apabila seorang lelaki ingin melamar seorang perempuan, maka tanyakanlah dulu tentang kecantikannya. Jika wanita tersebut dipuji kecantikannya, baru kemudian tanya tentang agamanya. Jika (agamanya) bagus maka ia nikahi. Tapi jika tidak bagus, maka ia menolak wanita tersebut karena agamanya (yang tidak bagus).
Dan janganlah bertanya tentang agamanya terlebih dahulu, jika (agamanya) bagus, kemudian baru ia bertanya tentang kecantikannya. Jika ternyata tidak cantik, kemudian ia menolaknya, maka ini berarti penolakannya adalah karena kecantikan bukan karena agama." [1]

Pernyataan Imam Ahmad ini sesuai dengan hadits Nabi shallallaahu 'alahi wasallam ketika ada seorang shahabat yang bertanya:

"Wanita (istri) terbaik itu yang seperti apa?"

Maka beliau menjawab:
الَّتِي تَسُرُّهُ إِذَا نَظَرَ ، وَتُطِيعُهُ إِذَا أَمَرَ 


"Yaitu wanita (istri) yang menyenangkannya apabila dilihat dan mentaatinya apabila diperintah" [2]

Sementara itu pernyataan Imam Ahmad rahimahullaah tadi juga tidak bertentangan dengan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berikut:

تُنْكَحُ الْمَرْأَةُ ِلأَرْبَعٍ: لِمَالِـهَا، وَلِحَسَبِهَا وَلِجَمَالِـهَا، وَلِدِيْنِهَا، فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّيْنِ تَرِبَتْ يَدَاكَ


"Wanita dinikahi karena empat hal: karena hartanya, keturunannya, kecantikannya, & karena agamanya. Dan pilihlah karena agamanya, niscaya kamu akan beruntung." [3]

Namun keteladanan yang mulia juga ditunjukkan oleh Imam Ahmad rahimahullah dalam menyikapi hal sebaliknya.


Diriwayatkan bahwa Imam Ahmad lebih memilih wanita yang buta sebelah, daripada saudari wanita ini yang sehat dan cantik. Ketika beliau ditawari (artinya beliau sudah tahu kondisi fisik dan kecantikan kedua wanita tadi, dan ini tidak bertentangan dengan pernyataan beliau di awal tadi), Imam Ahmad bertanya:

"Siapa yang lebih pandai (termasuk dalam urusan agama)?"

Dijawab: "Yang buta."

Kemudian Imam Ahmad mengatakan: "Nikahkan aku dengannya."

Dan pemilihan beliau ini juga dalam rangka mengamalkan hadits di atas yang menganjurkan agar memilih istri karena agamanya.

wallaahu a'lam.

Catatan kaki:
[1] Al Inshaf 12/206
[2] HR. Imam An Nasa'i no.3131 dishahihkan Syaikh Al Albani rahimahullah
[3] HR. Imam Al Bukhari no. 5090

Posting Komentar

0 Komentar