Ads

Keutamaan Ilmu dan Keutamaan Orang yang Berilmu [1/4]




Pendahuluan tentang Penjelasan Maksud dari Ilmu yang Terpuji dan Orang-Orangnya


Ilmu yang mulia adalah ilmu yang diturunkan dari langit ke bumi, ilmu yang diwahyukan oleh Allah subhanahu wa ta’ala kepada NabiNya shallallaahu ‘alahi wasallam yang berupa Al Kitab dan As Sunnah kemudian cabang-cabang ilmu syar’iy dari keduanya.


Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:


وَأَنزَلَ اللهُ عَلَيْكَ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَعَلَّمَكَ مَا لَمْ تَكُن تَعْلَمُ وَكَانَ فَضْلُ اللهِ عَلَيْكَ عَظِيمًا

“Dan (juga karena) Allah telah menurunkan Kitab dan hikmah kepadamu dan telah mengajarkan kepadamu apa yang belum kamu ketahui. Dan adalah karunia Allah sangat besar atasmu” (QS. An Nisaa’ [4]: 113)


Juga firman Allah subhanahu wa ta’ala:


وَكَذَلِكَ أَوْحَيْنَآ إِلَيْكَ رُوحًا مِّنْ أَمْرِنَا مَاكُنتَ تَدْرِي مَا الْكِتَابُ وَلاَ اْلإِيمَانُ وَلَكِن جَعَلْنَاهُ نُورًا نَّهْدِي بِهِ مَن نَّشَآءُ مِنْ عِبَادِنَا وَإِنَّكَ لَتَهْدِي إِلَى صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ

“Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu (al-Qur'an) dengan perintah Kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al-Kitab (al-Qur'an) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan al-Qur'an itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan dia siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus” (QS. Asy Syuura [42]: 52)


Serta firman Allah subhanahu wa ta’ala:


فَمَنْ حَآجَّكَ فِيهِ مِن بَعْدِ مَاجَآءَكَ مِنَ الْعِلْمِ

“Siapa yang membantahmu tentang kisah 'Isa sesudah datang ilmu (yang meyakinkan kamu)” (QS. Ali Imraan [3]: 61)

Maka Allah subhanahu wa ta’ala menerangkan kebenaran adalah hanya yang Allah wahyukan kepada Nabi shallallaahu ‘alahi wasallam saja, dan mensifati ilmu ini dengan sifat ruh (kehidupan) dan nur (cahaya), sesungguhnya bisa seperti itu karena dapat menghidupkan hati yang mati dan mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju cahaya, sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala:


أَوَمَنْ كاَنَ مَيْتاً فَأَحْيَيْناَهُ وَجَعَلْناَ لَهُ نُوْراً يَمْشِي بِهِ فِي النَّاسِ كَمَنْ مَثَلَهُ فِي الظُلُماَتِ لَيْسَ بِخاَرِجٍ مِنْهاَ كَذَالِكَ زُيِّنَ لِلْكاَفِرِيْنَ ماَ كاَنُوا يَعْمَلُوْنَ

“Dan apakah orang yang sudah mati kemudian dia Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar dari padanya” (QS. Al An’aam [6]: 122)



Ibnu Hajar rahimahullaah berkata:


“Yang dimaksud dengan ilmu adalah: Ilmu syar’iy  yang dapat memberikan manfaat dengan dapat memahami hal-hal yang wajib bagi mukallaf (orang yang mendapatkan beban syari’at) dari perkara agamanya dalam peribadatannya dan muamalahnya, dan ilmu tentang Allah dan sifat-sifatNya serta perintah-perintahNya yang harus ditegakkan dan membersihkan diriNya dari kekurangan-kekurangan, semua itu terkumpul dalam ilmu tafsir, hadits dan fiqh”

[Fathul Baari I/141]


Inilah ilmu yang terpuji secara muthlak, dan inilah yang disebutkan oleh dalil-dalil dengan menerangkan keutamaannya dan keutamaan orang-orangnya, juga ilmu inilah yang dimaksud untuk diterangkan di dalam kitab ini.


Walaupun di sana ada ilmu yang lain, di antaranya ada ilmu yang tercela secara muthlak, dan ada ilmu yang terpuji sesuai dengan perbedaan keadaannya:


Termasuk yang tercela adalah apa yang disebutkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala:


وَيَتَعَلَّمُونَ مَا يَضُرُّهُمْ وَلاَ يَنفَعُهُمْ وَلَقَدْ عَلِمُوا لَمَنِ اشْتَرَاهُ مَالَهُ فيِ اْلأَخِرَةِ مِنْ خَلاَقٍ

“Dan mereka mempelajari sesuatu yang memberi mudharat kepadanya dan tidak memberi manfaat. Demi, sesungguhnya mereka telah meyakini bahwa barang siapa yang menukarnya (kitab Allah) dengan sihir itu, tiadalah baginya keuntungan di akhirat” (QS. Al Baqarah [2]: 102)

Allah telah menetapkan bahwa ilmu yang membahayakan dan tidak bermanfaat – di sini adalah sihir -, dan termasuk yang tercela juga: Ilmu-ilmu orang kafir yang menentang Rasul ‘alaihissalaam, sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala:


فَلَمَّآ جَآءَتْهُمْ رُسُلُهُم بِالْبَيِّنَاتِ فَرِحُوا بِمَا عِندَهُم مِّنَ الْعِلْمِ وَحَاقَ بِهِم مَّاكَانُوا بِهِ يَسْتَهْزِءُونَ

“Maka tatkala datang kepada mereka Rasul-Rasul (yang dulu diutus kepada) mereka dengan membawa keterangan-keterangan, mereka merasa senang dengan pengetahuan yang ada pada mereka dan mereka dikepung oleh azab Allah yang selalu mereka perolok-olokkan itu” (QS. Al Mu’min [40]: 83)


Sedangkan termasuk yang terpuji dalam beberapa keadaan adalah: Ilmu yang bermanfaat tentang dunia, yang merupakan termasuk fardlu kifayah, seperti ilmu pertanian, industri, kedokteran dan yang semisalnya, inilah yang dimaksud oleh sabda Rasulullah shallallaahu ‘alahi wasallam:



أَنْتُمْ أَعْلَمُ بِأَمْرِ دُنْياَكُمْ

“Kalian lebih tahu tentang perkara duniamu” (HR. Muslim)

Ahlul ilmi:

Sedangkan ahlul ilmi yang telah disebutkan oleh dalil-dalil dengan menerangkan keutamaan-keutamaan mereka dan tingginya kedudukan mereka serta besarnya pahala mereka, mereka itulah para pengemban ilmu yang mulia ini, yang mereka amalkan pada diri mereka sendiri dan pada manusia dengan menyebarkan dan menyampaikannya. Dan telah disebutkan dalil-dalil bagi orang yang mengetahui ilmu namun tidak mengamalkannya sebagaimana dalam firman Allah subhanahu wa ta’ala:

كَبُرَ مَقْتًا عِندَ اللهِ أَن تَقُولُوا مَالاَتَفْعَلُونَ

“Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tiada kamu kerjakan” (QS. Ash Shaff [61]: 3)

Maka diketahui dari hal ini bahwa orang-orang yang terpuji adalah mereka para ulama’ yang mengamalkan ilmunya, dan bahwa orang yang tidak mengamalkan ilmunya dia termasuk orang yang dicela, bukan orang yang mendapat keutamaan. Bahkan Allah menurunkan ayat berkenaan dengan orang yang tidak mengamalkan ilmunya menduduki kedudukan orang yang bodoh yang tidak memiliki ilmu sama sekali, yaitu di dalam ayat:

وَلَقَدْ عَلِمُوا لَمَنِ اشْتَرَاهُ مَالَهُ فيِ اْلأَخِرَةِ مِنْ خَلاَقٍ وَلَبِئْسَ مَاشَرَوْا بِهِ أَنفُسَهُمْ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ

“Demi, sesungguhnya mereka telah meyakini bahwa barang siapa yang menukarnya (kitab Allah) dengan sihir itu, tiadalah baginya keuntungan di akhirat, dan amat jahatlah perbuatan mereka menjual dirinya sendiri dengan sihir, kalau mereka mengetahui” (QS. Al Baqarah [2]: 102)

Allah telah memulai dengan mensifati ahlil kitab dengan ilmu melalui huruf taukid qasami (penekanan dan sumpah) (Wa laqad alimu) kemudian menghilangkan ilmu dari mereka (Wa lau kaanuu ya’lamun) karena mereka tidak melaksanakan ilmu mereka, maka dia menduduki kedudukan orang-orang yang bodoh.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullaah berkata:

“Termasuk sesuatu yang tetap tertanam di dalam pikiran kaum muslimin: Bahwa pewaris para Rasul dan pengganti para Nabi mereka adalah orang-orang yang menegakkan agama secara ilmu dan amal dan dakwah kepada Allah dan RasulNya, mereka itulah sebenar-benar pengikut para Nabi, mereka itu kedudukannya menduduki suatu kelompok yang baik di atas muka bumi ini yang telah bersih dan menerima air lalu tumbuhlah rerumputan dan pepohonan yang banyak, sehingga dia dapat membersihkan dirinya sendiri dan membersihkan manusia, mereke itulah  yang mengumpukan antara bashirah tentang agama dan kuatnya dakwah, oleh karena itu mereka adalah para pewaris Nabi sebagaimana Allah berfirman tentang mereka:

وَاذْكُرْ عِبَادَنَآ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ أُوْلِى اْلأَيْدِي وَاْلأَبْصَارِ

“Dan ingatlah hamba-hamba Kami: Ibrahim, Ishak dan Ya'qub yang mempunyai perbuatan-perbuatan yang besar dan ilmu-ilmu yang tinggi”

Al aidy adalah kekuatan pada urusan Allah sedangkan Al Abshaar adalah Bashaa-ir (pandangan hati) tentang agama Allah, dengan bashirahlah akan dapat mengetahui dan menemukan kebenaran, dan dengan kekuatan akan meneguhkan penyampaian, pelaksanaannya dan dakwah kepadanya”.
[Majmu’ Al Fataawa IV/65]

Asy Syathibi rahimahullaah berkata:


“Ilmu itu termasuk salah satu dari wasilah-wasilah, bukan maksudnya untuk dirinya sendiri jika dilihat dari segi pandangan syar’I, akan tetapai ilmu itu adalah wasilah (sarana) untuk beramal, dan setiap apa yang disebutkan tentang keutamaan ilmu sesungguhnya itu untuk menguatkan ilmu dilihat dari sisi hal-hal yang harus dilakukan oleh seorang mukallaf (orang yang mendapatkan beban) untuk melaksanakannya"

[Al Muwaafaqaat I/65) cet. Daarul Ma’rifah]

Asy Syaathibi juga berkata:


“Ilmu yang dianggap merupakan ilmu syar’iy - yaitu ilmu yang dipuji oleh Allah Subhanahu wa ta’ala dan RasulNya secara umum - yaitu ilmu yang memotivasi diri untuk beramal, yang tidak membiarkan pemiliknya untuk mengamalkan sesuai dengan hawanafsunya bagaimanapun keadaannya, akan tetapi ilmu itu mengikat pemiliknya dengan tuntutan-tuntutannya, yang membawanya diatas undang-undangnya baik senang maupun terpaksa.”

[Al Muwaafaqaat I/69]

Maka dengan begitu telah diketahui bahwa ahlul ilmi yang telah disebutkan oleh dalil-dalil dengan menerangkan keutamaan mereka adalah para ulama’ yang mengamalkan ilmunya.


Setelah pendahuluan ini, kami (penulis, red) katakan bahwa banyak sekali disebutkan di dalam Al Qur’an dan As Sunnah yang menunjukkan akan keutamaan ilmu dan orang-orang yang mengamalkan ilmunya, dan akan kami (penulis, red) sebutkan di dalam bab ini empat pasal untuk menerangkan dalil-dalil ini disertai dengan pendapat-pendapat beberapa salaf, kemudian menerangkan tingkatan manusia dalam keutamaan ini sebagai berikut:


Pasal pertama: Dalil-dalil dari Al Qur-aan tentang keutamaan ilmu dan keutamaan orangnya.

Pasal kedua: Dalil-dalil dari Sunnah tentang keutamaan ilmu dan keutamaan orangnya.
Pasal ketiga: Perkataan para salaf tentang keutamaan ilmu dan keutamaan orangnya.
Pasal keempat: Penjelasan tingkatan manusia di dalam mendapatkan keutamaan ini.

Dan kami (penulis, red) berusaha untuk menjelaskannya dengan pertolongan Allah dan kekuatanNya.


(bersambung)

Posting Komentar

0 Komentar