Apa dan Bagaimana Home Education

by - 4/15/2018 11:31:00 PM




Disclaimer : materi yang saya tulis ini bukan milik saya. All credits dari Tim Pengurus HEbAT Pusat. Saya tuliskan kembali dengan tujuan sebagai catatan pribadi dan berbagi manfaat.

Bagian 1 
Home Education (Pendidikan berbasis Rumah)

Peradaban sesungguhnya berawal dari sebuah rumah, dari sebuah keluarga. Home Education (HE) itu bersifat wajib bagi kita yang berperan sebagai penjaga amanah. Karena sesungguhnya HE itu adalah kemampuan alami dan kewajiban syar'i yang harus dimiliki oleh setiap orang tua yang dipercaya menjaga amanahNya. Jadi tidak ada yang “LUAR BIASA” ketika kita mengerjakan HE. Kita hanya akan melakukan yang “SEMESTINYA” orangtua lakukan. Maka syarat pertama “dilarang minder” ketika pilihan anda berbeda dengan yang lain. Karena kita sedang menjalankan “misi hidup” dari sang Maha Guru (Allah Azza wa Jalla).

Home Education dimulai dari proses seleksi ayah/ibu yang tepat untuk anak-anak kita, karena hak anak pertama adalah mendapatkan ayah dan ibu yg baik. Setelah itu dilanjutkan dari proses terjadinya anak-anak, di dalam rahim, sampai dia lahir. Tahap berikutnya dari usia 0-7 tahun, usia 8-14 tahun, dan usia 14 tahun ke atas kita sudah mempunyai anak yg aqil baligh secara bersamaan.

Home Education sebagai orang tua dan anak nyaris selesai di usia 14 th ke atas. Orang tua berubah fungsi menjadi coach anak dan mengantar anak menjadi dewasa, delivery method HE pun sudah jauh berbeda. Kita dipercaya sebagai penjaga amanahNya, SEMESTINYA kita menjaganya dengan ilmu. Jadi orang tua yang belajar khusus untuk mendidik anaknya seharusnya hal BIASA, tapi sekarang menjadi hal yang LUAR BIASA karena tidak banyak orang tua yg melakukannya.

Hal-hal yang SEMESTINYA orang tua lakukan :
[1]  Mendidik
[2]  Mendengarkan
[3]  Melayani (pd usia 0-7 thn)
[4]  Memberi rasa aman&nyaman
[5]  Menjaga dari hal-hal yg merusak jiwa dan fisiknya
[6]  Memberi contoh dan keteladanan
[7]  Bermain
[8]  Berkomunikasi dengan baik sesuai usia anak

Bagian 2
OUTSIDE IN“ vs “INSIDE OUT

Tugas mendidik bukan menjejali “OUTSIDE IN“, tetapi “INSIDE OUT” yaitu menemani anak-anak menggali dan menemukan fitrah-fitah baik itu sehingga mereka menjadi manusia seutuhnya (insan kamil) tepat ketika mencapai usia aqil baligh. Satu-satunya lembaga yang tahu betul anak-anak kita, mampu telaten dan penuh cinta hanyalah umah (ibu) dimana amanah mendidik adalah peran utama ayah bundanya. Anak lahir ke muka bumi membawa fitrahnya, sehingga perlu pendidikan yang mengeluarkan fitrah anak tersebut:

·    [1] Fitrah Kesucian.
Inilah yang menjelaskan mengapa tiap manusia mengenal dan mengakui adanya Tuhan, memerlukan Tuhan, sehingga manusia memiliki sifat mencintai kebenaran, keadilan, kesucian, malu terhadap dosa.

·    [2] Fitrah Belajar.
Tidak satupun manusia yang tidak menyukai belajar, kecuali salah ajar. Khalifah (pemimpin) di muka bumi tentunya seorang pembelajar tangguh sejati.

·    [3] Fitrah Bakat.
Ini terkait misi penciptaan spesifik atau peran spesifik khalifah (pemimpin) atau peradaban, sehingga setiap anak yang lahir ke muka bumi pasti memiliki bakat yang berbeda-beda.

·    [4] Fitrah Perkembangan.
Setiap manusia memiliki tahapan perkembangan hidup yang spesifik dan memerlukan pendidikan yang sesuai dengan tahapannya, karena perkembangan fisik dan psikologis anak bertahap mengikuti pertambahan usianya. Misalnya, Allah tidak memerintah ajarkan shalat sejak dini, tetapi ajarkan shalat jika mencapai usia 7 tahun. Pembiasaan boleh dilakukan tapi tetap harus didorong oleh dorongan penghayatan aqidah berupa cinta kepada Allah dari dalam diri anak-anak.

Pendidikan Berbasis Shiroh
Kita perlu mengkaji lebih dalam pendidikan yang dialami oleh Rasulullah dari lahir sampai dewasa, sebagai contoh pendidikan untuk anak-anak nanti.

PENDIDIKAN dan PERSEKOLAHAN adalah hal yang berbeda. Bukan sekolah atau tidak sekolah yang ditekankan, tetapi bagaimana pendidikan yang sesuai dengan fitrah anak sehingga potensi alamiah anak dapat dikembangkan, karena setiap anak memiliki potensi yg merupakan panggilan hidupnya.

Pendidikan Berbasis Potensi & Akhlak
Yang dimaksud adalah yang terkait dengan performance. Dimulai dengan mengenal sifat bawaan atau secara istilah Abah Rama menyebutkan dengan Personality Productive yang kemudian menjadi aktivitas dan performance, lalu menjadi karir dan peran peradaban yang merupakan panggilan, akhirnya menentukan destiny. Jadi pengembangan potensi berkaitan dengan performansi, namun performansi memerlukan nilai-nilai yang disebut sebagai akhlak dan moral karakter. Dalam mengembangkan bakatnya, anak-anak perlu diingatkan dan diteladankan dengan nilai-nilai dalam keyakinannya (Al Islam) agar perannya bermanfaat dan rahmat atau menjadi akhlak mulia. ”Setiap keluarga memiliki kemerdekaan untuk menentukan dan mengejar mimpinya, termasuk dalam hal pendidikan.”

Bagian 3
Tazkiyatunnafs

Secara sederhana dimaknai sebagai pensucian jiwa, membersihkan hati dengan banyak mendekat, memohon ampun, menjaga serta berhati-hati dari hal-hal yg syubhat apalagi haram atau waro’ kepada Allah dengan harapan keridhaan Allah SWT agar ditambah hidayah sehingga fitrah nurani memancar dalam akhlak dan sikap serta kesadaran yang tinggi atas peran (tauiyatul a’la). Pendidikan anak atau generasi memerlukan ini sebagai pondasi awal.

Selanjutnya adalah masalah teknis. Umumnya kecemasan, obsesif, banyak menuntut atau banyak memaksa atau sebaliknya, tidak konsisten (dalam arti sesuai fitrah anak, bukan obsesi orang tua), tidak percaya diri mendidik anak, muncul karena kurangnya tazkiyatun nafs (pensucian hati) para orang tuanya sehingga mudah terpengaruh oleh “tuntutan atau perlakuan” yang tidak sesuai atau menciderai fitrah. Tujuan tazkiyatun nafs orang tua, adalah agar kita kembali kepada kesadaran fitrah kita dengan memahami konsep pendidikan sejati sesuai fitrah. Ketika orang tua menginginkan anaknya shalih maka orang tua harus memahami konsep kesejatian/fitrah anak dan makna keshalihan sesungguhnya. Shalih adalah amal, bukan status.

Pesan dari Bunda Septi yang selalu kami pegang, “Untuk itu siapkan diri, kuatkan mental, bersihkan segala emosi dan dendam pribadi, untuk menerima SK (Surat Keputusan) dari yang Maha Memberi Amanah. Jangan pernah ragukan DIA. Jaga  amanah dengan sungguh-sungguh, dunia Allah yang atur, dan nikmati perjalanan anda.”

Bagian 4
Metode dan Cara

Sudah tidak diragukan lagi bahwa mendidik (bukan mengajarkan) Aqidah sejak usia dini, adalah hal yang mutlak. Aqidah yg kokoh akan amat menentukan pilihan-pilihan serta pensikapan-pensikapan yg benar dan baik dalam kehidupan anak-anak kita kelak ketika dewasa. Lalu bagaimana metode dan caranya? Menurut yang saya pahami secara sederhana. Pertama, setiap pendidik atau orang tua perlu menyadari bahwa sesungguhnya setiap anak manusia yang lahir sudah dalam keadaan memiliki fitrah aqidah atau keimanan kpd Allah Swt.

Setiap manusia pernah bersaksi akan keberadaan Allah swt, sebelum mereka lahir ke dunia. Maka tidak pernah ditemui di permukaan bumi manapun, bangsa-bangsa yang tidak memiliki Tuhan, yaitu Zat Yang Maha Hebat tempat menyerahkan dan menyandarkan semua masalah dalam kehidupan. Yang kedua adalah bahwa tugas mendidik adalah membangkitkan kembali fitrah keimanan ini, namun bukan dengan doktrin atau penjejalan pengetahuan tentang keimanan, namun dengan menumbuhkan (yarubbu/inside out) kesadaran keimanan melalui imaji-imaji positif tentang Allah SWT, tentang ciptaanNya yang ada pada dirinya dan ciptaanNya yg ada di alam semesta.

Dengan begitu maka, yang ketiga adalah dengan metode untuk sebanyak mungkin belajar melalui hikmah-hikmah yang ada di alam, hikmah yang ada pada peristiwa sehari-sehari, hikmah pada sejarah, hikmah-hikmah pada keteladanan dstnya.
[1] Menjadi penting membacakan kisah-kisah keteladanan orang-orang besar yang memiliki akhlak mulia sepanjang sejarah, baik yang ada dalam Kitab Suci maupun Hadits maupun yang ditulis oleh orang-orang sholeh sesudahnya.
[2] Menjadi penting senantiasa merelasikan peristiwa sehari-hari dengan menggali hikmah-himah yang baik dan inspiratif.
[3] Menjadi penting untuk senantiasa belajar dengan beraktifitas fisik di alam dengan meraba, merasa, mencium aroma, mengalami langsung dstnya.

Metode berikutnya, tentu saja kisah-kisah penuh hikmah itu perlu disampaikan dengan tutur bahasa yg baik, mulia dan indah bahkan sastra yg tinggi. Menjadi penting bahwa tiap anak perlu mendalami bahasa Ibunya dan bahasa Kitab Sucinya. Bukan mampu meniru ucapan, membaca tulisan dan menulis tanpa makna, namun yg terpenting adalah mampu mengekspresikan gagasan-gagasan dalam jiwanya secara fasih, lugas dan indah, sensitif terhadap makna kiasan dalam bahasa sastra yg tinggi.

Para Sahabat Nabi SAW yang dikenal tegas namun memiliki empati dan sensitifitas yang baik serta visioner umumnya sangat menggemari sastra. Semua metode itu bertujuan untuk membangun kesadaran keimanan melalui imaji-imaji positif lewat kisah yang mengisnpirasi, melalui kegairahan yang berangkat dari keteladanan, pemaknaan yang baik melalui bahasa ibu yang sempurna dstnya.

Imaji negatif akan melahirkan luka persepsi dan luka itu akan membuat pensikapan yang buruk ketika anak kita kelak dewasa. Sampai sini kita menyadari bahwa peran orangtua sebagai pendidik yang penuh cinta serta telaten maupun sebagai sosok yang diteladani dan menginspirasi tidak dapat digantikan oleh siapapun, apalagi dalam membangkitkan kesadaran keimanan anak-anaknya. Maka penting bagi para pendidik untuk melakukan pensucian jiwa (tazkiyatun nafs) sebelum memulai mendidik dengan Al Qur’an dan hikmah.
Bukankah orangtualah yg akan dimintai pertanggungjawaban kelak di akhirat, bukan yang lain?

Oleh : Ust. Harry Santosa dan Bunda Septi Peni Wulandani

Salam Pendidikan Peradaban
#pendidikanberbasispotensiakhlak

Disusun oleh: Tim Pengurus Pusat HEbAT

You May Also Like

0 komentar